Tinggalkan komentar

Belajar dari Dian Pelangi dan Hijabers community

Di acara talkshow Dian Pelangi, gambar latar adalah hijabers community

14 bulan ramadhan 1433H, Kamis 2 agustus 2012

Hari ini saya mendapatkan undangan unik dari kang Dika, atau nama lengkapnya Swadika Yanavi. Saya diajak untuk ikutan menjadi audience dari acara metro tv, di bina oleh Ari Ginanjar Agustian, dalam episode berjudul ‘Leadership with Characters’. Acara ini ditayangkan setiap hari di bulan ramadhan 2012 di metro tv setiap jam 16.00, dalam rangkaian talkshow bertajuk Ensiklopedi Muslim.

Di hari itu kami di minta untuk menjadi audience di 4 episode, namun yang lumayan terkesan bagi saya adalah acara yang pembicara tamunya adalah Dian Pelangi. hmm.. siapa dia? Dian Pelangi (DP) bukanlah seorang perempuan yang berwajah warna warni seperti pelangi, bukan. DP(21) adalah seorang muslim fashion designer muda, pemilik butik Dian Pelangi, sekaligus pendiri Hijabers Communiy, sebuah komunitas yang berbagi akan indahnya balutan hijab dalam kewajiban berpakaian bagi wanita muslimah.

Dalam acara talkshow yang sangat singkat itu, DP bertutur, ketika usia SMP, ayahnya menyekolahkannya di salah satu pesantren di Bogor. Pesantren boarding school untuk kalangan ‘the haves’ sehingga ketika itu teman-temannya adalah anak-anak orang yang berkelimpahan, serba berada dan tak kurang suatu apa. Kemudian setelah lulus, DP ‘dipaksa’ ayahnya untuk melanjutkan sekolah ke sebuah SMK jurusan tata busana di kota kecil di Jawa(saya lupa kota apa), ia mengalami penyesuaian yang cukup berat. Di awal2 masa itu, sering sekali ia menangis setiap hari, menyalahkan ayahnya yang begitu tega memaksanya untuk bersekolah ditempat terpencil demi tujuan meneruskan usaha butik keluarganya. Betapa tidak, tiba2 kini ia memiliki lingkungan yang sangat bertolak belakang dengan lingkungan ketika di pesantren. Sahabat baiknya sendiri, tinggal di rumah orangtuanya yang hanya berlantaikan tanah, dan banyak sekali pemandangan lain yang memaksanya untuk menyesuaikan diri dalam keterbatasan seorang remaja. Namun itu semua sudah ia lewati, kini ia sudah memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan lingkungan dari kalangan manapun.

Dian PelangiSelepas sekolah di SMK jurusan tata busana, ia meneruskan sekolah selama satu tahun di sekolah fashion design ternama di Jakarta. Di usianya yang ke 18 tahun yang masih sangat belia itu, ia mengaktualisasikan skill dan pengetahuannya di bidang busana muslim pada usaha butik yang dinamai Dian Pelangi. Kreatifitasnya sangat digandrungi oleh semua kalangan. Produk busana muslimnya juga tidak hanya dijual di Indonesia, tetapi juga ke mancanegara. Ia bisa mengakomodir selera remaja yang berwarna-warni khas seperti layaknya pelangi, bahkan selera orang tua yang elegan dan mewah.

Dari apa yang dialaminya, ini yang perlu di garis bawahi, kini ia tidak lagi marah dan kesal sama ayah yang telah memaksanya untuk sekolah di kota kecil yang ngga gaul itu, Justru sekarang ia sangat bersyukur dan berterimakasih pada ayahnya, yang tanpa arahan dari ayahnya itu, maka tidak akan ia menjadi seperti sekarang, seorang wanita muda yang sudah menorehkan karya nyata yang luar biasa.

Memang bisnis ini penuh suka duka. Dengan konsep bisnis fashion yang menjadi trend setter, DP maju dan unggul dengan desain yang ia torehkan. Dengan konsep desain yang menjadi titik diferensiasi itu, karyanya unggul di pasar muslim fashion dengan karakternya sendiri, terbukti dengan satu item busana koleksinya bisa laku hingga jutaan rupiah.. Namun ternyata ada kendala yang membuatnya ‘bete’. Hal itu adalah plagiat, atau ahli nyontek. Betapa tidak, desain terbaru ia keluarkan, tak lama kemudian ada busana yang dibuat oleh orang lain, yang motif, desain, corak dan detail yang mirip, dengan label merek Dian Pelangi, tapi dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Menurutnya ini adalah cirikhas pasar Indonesia, yang belum faham masalah copy right. Namun sang bunda tercinta mengingatkan DP, menurutnya, DP harus legowo, setidaknya dengan ulah plagiat tersebut, nama dan koleksinya terangkat mencuat di industri muslim fashion model. Sampai-sampai dipasaran model dan koleksi tiruannya pun disebut-sebut koleksi desain pelangi.

Lalu kemudian, ditengah perkembangan bisnis fashion yang ia geluti, pergaulannya pun berkembang. Ia kembali berinteraksi dengan teman-teman dari kalangan ‘the have’ seperti dulu lagi, dan itu membuatnya sempat masuk ke episode dimana ia diuji dengan lingkungan baru itu. Mulai dari menghabiskan waktu di Mall-mall seperti layaknya ‘anak gaul’ ibu kota, sampai dimarahi orang tua karena pulang larut malam selepas berkaraoke dengan teman2nya. Lebih jauh, ia sempat galau dan jenuh, sampai ia memutuskan tidak berhijab, kecuali hanya berkerudung saja. Mungkin itu yang dirasakan tepat bagi dirinya yang ingin bersosialisasi lebih dekat dengan teman-temannya. Namun Alhamdulillah, pemikiran itu hanya dilaluinya selama 2 minggu saja, Allah memberikan keteguhan hati padanya. Alih-alih ia terpengaruh oleh lingkungannya, justru ia yang bertekad untuk memperluas pengaruhnya dengan membangun komunitas pemakai hijab.

Luar biasa, dari dorongan hatinya untuk memperluas dan mengikat para pecinta hijab (jilbab), ia berfikir bagaimana caranya supaya idenya ini dapat terlaksana dan meluas keseluruh perempuan di Indonesia. Lalu ia dan kawan-kawannya mengukuhkan tujuan mulia itu dengan membangun Hijabers Community.

Hijabers community ini dengan cepatnya menyebar luas ke seluruh Indoesia, secara online komunitas ini aktif dalam situs dan pengelolaan social media. Secara Offline pun gerakannya cepat sekali, dari tutorial pemakaian hijab, sampai fashion show dan design roadshow yang dilakukan di kota-kota seluruh Indonesia.

hijabers community

hijabers community yang didirikan oleh Dian Pelangi

Di akhir acara, host Ari Ginanjar Agustian memberikan pandangannya terhadap Dian Pelangi dari sisi leadership. Menurutnya, Dian Pelangi telah memberikan contoh nyata bagi adanya leadership dalam diri seseorang. Hal yang pertama, seorang leader memiliki kemampuan untuk memperluas pengaruhnya. DP melalui Hijabers Community telah menunjukkan sifat leadership itu. Hal ke dua, DP telah menjadi leader yang tidak hanya dapat menentukan visi dan impian, tetapi ia bisa mengeluarkan visi dan impian itu menjadi kenyataan. Dalam kesimpulannya, Ari bertutur, seperti pada hikmah bulan ramadhan, bahwa ketika zakatnya sudah dikeluarkan, maka keadaanya menjadi fitri, begitu juga dengan seorang leader yang telah mengeluarkan visi menjadi kenyataan, menjadi muncul fitrahnya. Menjadi nyata manfaatnya bagi sesama. [by: Rahmawan Puspawijaya]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: