Tinggalkan komentar

Buatlah jeda, coz silence is joy

image

Yes, you certainly can enjoy silence..
Sekitar 2 minggu lalu di kantor dapet kesempatan dikunjungi oleh satu orang penulis buku berjudul  ‘Berhaji ke Allah’ namanya bapak Abdul Azis. Buku itu menerangkan bahwa kalau Allah yang disembah sama, semestinya kenikmatan ibadah sholet tidak berbeda, apakah ketika di Jakarta, di kampung atau di kantor, dibandingkan dengan di tanah suci, yaitu Masjid Al Haram dan Nabaei. Lalu beliau berbagi kepada saya mengenai buku yang terbaru yang masih sedang ditulis olehnya. Ada sesuatu dari sharingnya, yg membuat saya ingin cepat2 pulang ke rumah dan praktek.
Menurut beliau, ibadah Maghdoh, yang berupa ibadah yang mengatur hubungan pribadi dengan Allah,  selalu ada puncaknya. Puncak ibadah itu misalnya:
Pada haji, puncaknya wukuf.
Pada puasa, puncaknya iktikaf di 10 hari terakhir.
Nah menurutnya, pada sholat puncaknya adalah tuma’ninah, yaitu jeda diantara bacaan dan gerakan. Hmmm ok, lalu?

Setelah dijelaskan, kesimpulannya dan ditambah kesimpulan saya jadinya begini.
1. Sholat yang hanya berisi gerakan dan bacaan tanpa jeda adalah seperti minta sambil ‘ngerampok’.. Hee.. Ngga pake etika. Dan terkesan hanya menggugurkan kewajiban saja. Ketika sholat itu do’a, pantaskah kita melakukannya dengan cara yang tidak lebih khidmat daripada ketika kita minta kepada sesama manusia? Maka berdoalah dengan jeda, dan penghayatan. Kita akan menilai anak kita mengesalkan jika ia meminta sesuatu dengan merengek menempel dan ngintilin, yg ujungnya kita akan bilang ‘dah diem, ngomong sekali aja, bapak sdh dengar’. Maka kita selayaknya menghadap pencipta kita dengan santun dan hormat.
2. Tuma’ninah memberikan kita kesempatan untuk berdiam, yanf justru diam itu membuat sholat menjadi tak ternilai. Dengan berdiam, kita bisa menghayati keberadaan kita yang sedang menghadap Allah. Pengalaman tiap orang bisa berbeda-2, yang penting dicobaa dulu. Ada yg memperdalam perasaan ‘diperhatikan’, ada yang memaknai dengan makin bertambahnya ketertundukan, bisa juga menghadirkan perasaan tak berdaya, banyak dosa, malu minta, mohon ampun, merasa kecil, merasa hina, mengingat, dan lain2 sebagainya. Menurut saya perasaan2 ini memang perlu dilibatkan pada saat sholat sehingga setiap sholat bermakna ‘komunikasi’ atau berhubungan langsung dengan Allah, yang membuat ibadah ini semakin nikmat dan bermakna.
Memang sulit membayangkan untuk bisa menumbulkan perasaan2 khidmat itu tanpa berdiam. Tidak mungkin rasanya bisa syahdu seperti itu kalau kita terus lakukan bacaan gerakan bacaan gerakan tanpa berhenti.
Alhamdulillah saya pribadi mendapatkan manfaat dari praktek sholat yang tuma’ninah ini. Sholat jadi butuh waktu yang kebih panjang, namun malahan justru terasa tambah fokus, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang suka lupa rakaat.. Hadehh.. Cape…

Kemudian saya memikirkan konsep ‘berdiam’ ini dikehidupan sehari-hari. Wae ternyata tidak terbayangkankalau hidup kita tanpa jeda, Bisa-bisa hang kayanya otak. Coba bayangkan
bacatulisaninitanpatandabacaspasidantitikkomaapayangakanandarasakanselainbingungdaninginulang2terusbacanyakarenanggakngerti2bacaantanpaadatandabacadanjedajugabacaannyajaditaktermaknaidenganbaik.
Nah.. Kerasa kan?
Begitu juga dengan hidup kita.. Paling gampang..kita perlu tidur setiap hari. Saya tau gmn sengsaranya orang yang tdk bisa tidur.
Sampai makan dan minum pun Islam mengatur jedanya… Makan setelah lapar, berhenti sebelum kenyang.. Lalu jika minum, hendaknya menelan air dengan 2kali tegukkan, jangan habiskan satu gelas sekaligus, tapi dua teguk at a time.
Bisa bayangkan kalau setiap hari kerja tanpa ada libur mingguan dan cuti tahunan? Nah ituuhh..
Dalam dunia bisnispun bahkan saya melihat ilmu silence ini bisa diaplikasikan.
Sebagaimana biasa, pengusaha akan kerapbmemikirkan peluang2 bisnis.. Nah di sini.. Kalau setiap peluang yang masuk tidak disikapi dengan benar, maka bisa jadi peluang itu ditindaklanjuti dan berakhir air mata.. Waktu dan tenaga terbuang bahkan juga bisa alami kerugian.
Adakalanya semua peluang seperti terang benderang.. Sehingga pengusaha kehilangan fokus.. Kalau sudah begini pikiran bisa tidak objektif, jalan tersandung sandung dan langkah tidak sistematis. Satu urusan belum selesai sudah mulaiburusan yang baru. Bingung khann??
Menurut saya pada saat seperti ini ada baiknya seorang pengusaha mengaplikasikan the joy of silence ini.. Jernihkan fikiran, perbaiki hubungan dengan Allah, jalankan lagi setelah akal tenang, perasaan stabil dan penilaian bisa objektif. Toh tujuan akhir kita Allah, apa yg kita cari ujung2 nya nanti untuk Allah, maka tugas kita menjalani semua dibarengi dengan ketertundukan kepada Syariat Allah. Tanpa menghadirkan pemahaman ini, maka jadilah pengusaha bingung dengan jalan hidupnya yang acak2an tadi.
Ambil waktu istirahat sejenak, menajamkan pisau yang tumpul, dan mengganti oli mesin yang lelah… Berdiam merasakan kehadiran dan kasih sayang Allah, berjalan kembali dengan energi yang unstoppable yang lurus.. InsyaAllah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: