Tinggalkan komentar

Jika bukan ketertambatan hati pada syariah Islam yang merasuki hati kita, lalu apa?

Pemaknaan tauhid semestinya berbuah akidah, yang bentuknya adalah ketertambatan hati pada hukum sebagai jalan yang harus dilalui setiap orang beriman yang ingin selamat kembali menuju Allah. Shortcutnya sudah dijelaskan di dalam alquran,  bahwa tujuan manusia hidup di bumi adalah beribadah, dalam rangka menuju ke tempat kembalinya yaitu kepada Allah. Ibadah berarti melaksanakan perintah Allah, agar kita pantas dipilih Allah untuk kembali kepadaNya, ke tempat yang baik.

Pertanyaannya adalah, sudahkah secara utuh kini kita dapat menjalankan perintah Allah? Jawabnya adalah belum. Selama habitat hidup muslim tidak menaungi tumbuhnya syariah Islam, maka muslim kini bagai makhluk yang sedang hidup di habitat yang salah, misal bagai sponge bob squarepants yang mestinya hidup di air, akan kering menciut ketika mengunjungi sandy the squirrel temannya di darat. Analogi lain seolah muslim bagai beringin yang sedang di bonsai. Atau dipaksa makan makanan beracun.
Apa faktanya? sebagai contoh yang bisa kita ingat dari pengalaman kecil dulu ketika didoktrin :

Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum

Saya fikir tidak perlu seorang kiyai atau ulama besar untuk merasakan keanehan dalam hatinya ketika disampaikan hal di atas. Dulu waktu saya SD, hal itu mencetus pertanyaan lugu, ‘Pancasila?? kok bukan Alquran ya??’ Yang setelah berpuluh tahun kemudian baru saya mengerti, Inilah yang menjadi penyebab kaum muslim harus hidup di ‘habitat’ yang tidak semestinya, ternyata bahkan keberadaan Indonesia sendiri pun dibuat oleh dunia barat sebagai bentukan ‘habitat’ baru bagi kaum muslim. Dan kita tidak sendiri, di negeri-negeri muslim lainnya pun terjadi hal yang sama. Bacalah sejarah, sejarah yang benar, sejarah yang mengantarkan pada pemahaman bahwa barat yang bertujuan menguasai dunia sudah bermakar berabad-abad untuk melumpuhkan dan kemudian memecah belah negara raksasa Islam lewat penjajahan maupun perang pemikiran.

Kini sudah terdengar gema penegakkan syariah Islam, melalui jalan penegakkan khilafah. Dan gerakan pemikiran ini sudah menyebar sedemikian luas di 50 negara. Pemikiran ini dengan sangat mudahnya diterima kalangan luas, dari kaum awam sampai ke kalangan cendekiawan, maupun kiayi dengan ribuan santri. Gagasan khilafah bisa dibuktikan secara ilmiyah dengan Dalil, alquran dan hadits, juga dengan ijma sahabat dan qiyas. Selain itu juga urgensi penegakkannya memuaskan akal, dan menentramkan hati karena memang cara inilah yang akan menjadi satu-satunya solusi untuk mengembalikan fitrah Islam sebagai Rahmatan lil alamin dan penerang bagi dunia yang kini mengalami kegelapan. Intinya ada di penegakkan hukum Islam secara kaffah, bukan khilafah yang menjadi tujuan akhir.

Lalu apa yang dialami oleh pengemban dakwah syariah khilafah di lapangan? Tentu saja penentangan adalah bagian dan fitrah dakwah itu sendiri. Jika disimpulkan, ada 3 tipe yang menolak ide khilafah.

  • Tipe 1: Belum mendapatkan penjelasan komprehensif, secara gamblang dan utuh tentang ide khilafah
    Untuk tipe ini, pengemban dakwah hanya perlu menyampaikan saja secara utuh. Biasanya tipe 1 ini sudah dengar tapi masih sepenggal-sepenggal. Pengalaman saya pribadi, awalnya saya masih menolak, saya mempertanyakan kenapa harus ambisius terhadap kekuasaan? setelah saya didudukkan untuk diskusi sekitar 2 jam, baru saya mengerti mulai dari idenya, urgensinya, sampai ke dalilnya. Didapatlah tujuan menegakkan kekuasaan karena tujuannya melindungi hukum Allah. Lalu jika sudah dijelaskan namun masih ada penolakan, mungkin ia tipe 2.
  • Tipe 2: Memahami pemikiran yang salah
    Melihat Menilai pemikiran yang salah bukan berarti mengkafirkan yang tidak mendukung pemikiran. Harakah adalah pergerakan, tujuannya mengajak kaum muslim untuk bergerak. Tidak ada urusannya harakah penegakkan khilafah kemudian mengkafir-kafirkan selain pendukungnya, lha wong tujuannya kan mau mempersatukan. Mengkafirkan berarti menambah musuh. Maka tipe ini ada 3 macam :

    • Alam politik sekarang memang menyebarkan ideologi diluar Islam, dari kecil logika politik bangsa indonesia memang sudah dibentuk menjadi pancasilais dan nasionalis. Kalau tipe ini didekati tidak terlalu besar penolakannya.
    • Sudah terkena ideologi asing yang memang sengaja di sebarkan untuk memblokade tumbuh kembalinya ideologi Islam. Biasanya penolakkannya bukan kepada ide khilafah saja, tetapi juga kepada existensi Islam itu sendiri, contohnya islam liberal.
    • Pemikiran yang didapat dari manhaj, yang mana manhaj tersebut dibangun oleh pihak-pihak yang ingin mempertahankan kelangsungan rezimnya, sehingga ‘mengharamkan’ umat untuk berpolitik, kecuali pemimpin dan ulamanya. Pemikiran ini biasanya menjadikan pengikutnya sholeh secara pribadi. Tanpa sadar, sebetulnya golongan seperti ini turut menyebarkan paham sekularisme, membagi permasalahan menjadi 2, ritual dan ibadah maghdoh mengadopsi islam, pengurusan umat seperti ekonomi, hukum dan politik dibiarkan diurusi oleh hukum selain islam.
  • Tipe 3: Ego

Beberapa fakta pada tipe ini,

    1. Melihat sesuatu dari sudut pandang kalah menang. Yang perlu disampaikan padanya adalah, pengemban dakwah bukan sedang hebat-hebatan atau mengajari, tapi sedang melaksanakan kewajibannya.. itu saja. Menerima ide bukan berarti kalah, menolak bukan juga berarti menang. Kalau sudah kalah menang cara melihatnya, tipe ini cenderung tidak objective. Ia mencari sesuatu yang berasosiasi dengan apa-apa yang akan memenangkan egonya, misalnya dengan percaya pada subhat-subhat yang melemahkan hizb, tanpa mengerti bahwa fitnah memang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak inginkan tegakknya syariah dan daulah Islam. Perang pemikiran itu disusupkan dari dalam tubuh umat sendiri. Ini bukan tentang kalah menang, tapi tentang umat. Ini bukan memikirkan individu dan ambisi, tapi ini tentang ideologi Islam. Hanya keterbukaan fikiran yang bisa menjadi jalan untuk masuknya kebenaran dan hidayah, dan menolak kebenaran adalah sombong. Maka Pengemban dakwah juga wajib menjaga keikhlasannya. Jika penyampai dan pendengar ikhlas, InsyaAllah, Allah Ridho.
    2. Intelektualitas yang membangun perasaan puas akan pengetahuan yang dimilikinya. Ini bisa berkembang menjadi penolakan karena merendahkan orang lain. Rasa sombong bisa bersarang di kedua pihak, baik di pihak penyampai, ataupun pendengar. Salah satu merasa sombong, dakwah sulit berhasil. Sombong menurut Hadits adalah “menolak kebenaran dan meremehkan manusia”, maka bagi pendakwah, harus berendah hati. Bagi pendengar, harus ikhlas menerima kebenaran dan juga berendah hati. Satu stimulus bagi tipe ini, jika memang intelek, di luar sana sudah banyak intelektual muslim berkaliber nasional dan internasional yang menerima ide khilafah ini, tentu tidak sulit untuk menerimanya juga.
    3. Ini pengalaman pribadi saya, Awalnya saya melihat kader khilafah sering kali terkesan arogan, merasa paling benar dan meremehkan yang lain, menyakiti hati dsb, padahal sebetulnya saya melihat memang tidak ada yang salah yang disampaikan oleh kader2 itu. Dengan membiarkan perasaan seperti ini, saya terombang-ambing selama 3 tahun lamanya. Saya mengenal dan tertarik tetapi tidak kunjung masuk. Yang menyebabkan penundaan ini ya saya sendiri. Saya lebih memilih untuk mengeluhkan ketersinggungan atau arogansi si kader, daripada saya membuka fikiran untuk menerima kebenaran. Ketika saya membuka diri dan menekan ego saya, maka barulah kesempatan untuk mendengarkan secara gamblang dan utuh itu saya dapat.
    4. Demografi, beberapa daerah berbeda karakter penduduknya dengan daerah yang lain, ada yang dengan legowo menerima pemikiran baru, ada juga yang cenderung sebaliknya. Untuk itu harus dimaklumi, budaya kehidupan penduduk itu memang membentuk karaker orang tsb. Pendekatan yang tepat bagi daerah berkarakter keras telah dicontohkan caranya oleh sahabat Rosul Mus’ab bin Umayr. Betapa kuatnya karakter kepala suku aws dan khojroj, namun dapat takluk oleh penuturan Mus’ab yang berumur belasan tahun. Tidak lain adalah menjadikan ego lawan bicara sebagai kelemahan. Ia ‘memberi dulu baru mengambil’.

Sebagai penutup, sekedar saling menyemangati, dengan atau tanpa kita, khilafah akan tegak sesuai dengan Janji Allah. Pertanyaannya adalah akankah kita terlibat dalam menyerukan kewajiban khilafah ini? atau nonton.. itu pilihan. jika kita faham kita mati hanya membawa amal jariyah, maka peluang amal jariyah terbuka bagi yang mendakwahkannya. Karena menjadi bagian dari perjuangan penegakkan hukum Allah yang akan dinikmati umat dan membebaskan umat dari belenggu yang menghalangi keutuhan berjalannya syariah islam hingga hari kiamat nanti.

Ketika kita faham hidup untuk ibadah yaitu menjalankan hukum Allah, namun hukum Allah sedang tidak ditegakkan dengan khafah, dapatlah kita bertanya pada diri, apa yang meliputi hati kita, kerinduan terhadap penegakkan syariah kah? kalau bukan itu lalu apa isi hati kita? AllahuA’lam

syariah-khilafah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: