Tinggalkan komentar

Kenapa bukan kajian akhlak yang akan mengantarkan umat pada kebangkitan?

Coba kita renungkan pertanyaan2 ini :

TANYA:
Berapa puluh tahun sudah:
– Kita beribadah sholat ?
– Indonesia merdeka?
– hadir sholat jum’at dan dengarkan seruan taqwa?
– kita melewati ramadhan agung dan idul fitri hari kemenangan?
– kita dengarkan berulang2 para ulama berkhutbah tentang akhlakul kariimah
– kita kaji fikih wudhu dan sholat
– kita diperdengarkan ayat bahwa tidaklah Allah merubah nasib suatu kaum hatta kaum itu sendiri yg merubahnya?
– kita diperdengarkan sifat2 luhur islami berupa kejujuran, kerendah hatian, ketundukkan, kedermawanan?
– kita tahu Islam ini umat terbaik?

JAWAB:
sudah berpuluh tahun

TANYA :

sudahkah umat ini bangkit? Sudahkah yg puluhan tahun dilalui tadi bisa merubah nasib umat islam? Sudahkah pelajaran akhlak membuat hilangnya korupsi, kriminalitas dan kemaksiatan? Sudahkah sholatnya para penguasa itu membuatnya tunduk patuh pada aturan Allah? Sudahkah islam jadi penebar rahmat yg mensejahterakan? Berapa lama aqidah tauhid dibahas namun sudahkah secara umum terlihat muslim lebih mulia daripada org kafir?

JAWAB: Belum

TANYA :
Islamkah yang salah, atau muslimnya yang salah?

JAWAB:
Muslimlah yg salah muslimlah yg harus berubah. Ayat perubahan nasib berbicara tentang perubahan kaum, bukan perubahan individu. Maka harus ada perubahan pada kaum.

TANYA:
Lalu dari manakah mulainya?

JAWAB:
Yaitu dari kebangkitan pemikirannya.

TANYA:
Gimana caranya?

JAWAB:
Krn komponen berfikir adalah fakta, informasi sebelumnya, indera, dan otak, maka kita ubah apa2 yd diolah oleh komponen2 itu. Yaitu UBAHLAH sudut pandang thd fakta, apa2 yang diindera, dan Informasi2 yang shohih, yang berasal dari faka yang benar adanya, ukan manipulasi, bukan pula prediksi. Namun apa adanya. Inilah yang disebut merubah paradigma.

Paradigma muslim hari ini thd Islam adalah bahwa Islam hanya berbicara tentang ibadah maghdoh (ritual dan tatacara penyembahan), akhlak, dan akidah namun bukan akidah yg dipahami melalui proses berfikir. Padahal sebetulnya Islam (sbgmn pada rukunnya) meliputi aqidah aqliyah , ibadah maghdoh , akhlak , dan muamalah.

Inilah yang menyebabkan kemerosotan muslim karena Islam tidak diadopsi secara kaffah. Di satu sisi hubungan manusia dengan Tuhannya di adopsi dalam peribadatan ritual, di sisi lain hubungan antar sesama berupa ibadah muamalah tidak digali dan diterapkan.

Di satu sisi akhlak di kaji dan terus di ulang-ulang, di sisi lain kepribadian muslim yang utuh tidak pernah tercapai, karena sesungguhnya kepribadian Islam akan terbentuk dengan sendirinya dengan hidup dalam Islam secara utuh, dari aqidah, ibadah hingga muamalah. Kepribadian Islam juga tidak akan tercapai selama belum ada upaya untuk menyatukan aqidah (tujuan hidup) dengan perbuatan.

Tulisan singkat ini akan mengomentari masalah akhlak ini tadi.

Sesungguhnya akhlak adalah aturan2 yang mengatur hubungan antara manusia, dengan dirinya sendiri. Yaitu aturan yang mengatur pengendalian naluri. Misal berbuat jujur, sesungguhnya itu adalah hukum yang mengatur agar seseorang dengan sadar tidak memenuhi kebutuhan naluri mempertahankan hidupnya (baqo) dengan mengelabui orang lain. Contoh lain, menjaga pandangan terhadap lawan jenis, itupun adalah pengendalian naluri atas kebutuhan mempertahankan jenis. Misal lagi, berlemah lembut terhadap sesama, juga sabar dll.

Ini semua (pengendalian naluri) adalah aturan2 yang kemudian jika diikuti akan menyebankan orang yang mengikuti aturan itu menjadi bersifat muslim.

Untuk difahami, sifat tidak mewakili eksistensi. Sifat adalah tampakkan parsial/sebagian dari sesuatu. Jadi jika kita kita ingin menjadi muslim yang utuh, tidaklah cukup mempelajari akhlak(pengendalian naluri) saja. Pengendalian naluri bermakna pengendalian terhadap syahwat, baqo (mempertahankan diri), dan Nau (menuhankan/mengidolakan sesuatu). Itulah daya kehidupan yang manusia miliki, sebagaimana dimiliki juga oleh hewan. Artinya pengendalian naluri belum menyentuh aspek pemikiran, yang membedakan manusia dengan hewan.

Pada hakikatnya aturan2 yg mengatur pengendalian naluri adalah kumpulan hukum-hukum Islam yang dipilih untuk dikaji agar sifat-sifat muslim bisa dipelajari. Namun ini artinya adalah menggali sebagian saja dari yang seharusnya dipelajari. Artinya jika kita ingin menjadi seorang muslim dengan hanya mempelajari akhlak tanpa membangun kepribadian islam secara utuh, itu sama dengan menutupi luka dengan band-aid/plester. Seseorang (tidak usah muslim), jika ia mensifati sifat muslim, maka ia bisa terlihat seperti muslim. Nah ‘band-aid’ solution ini adalah berbahaya dan tidak mengakar pada esensi Islam itu sendiri.

Kita sekarang bahas fakta-fakta dari bahayanya mempelajari Islam melalui akhlak saja tanpa membangun kepribadian yanv menyeluruh. Jika ada Seorang muslim yang berlemah lembut, dan juga terlihat sangat dermawan, ia bisa mempesona umat, padahal harta yang digunakannya untuk berderma adalah harta hasil korupsi harta rakyat, maka ini bisa menjadi ‘band-aid’ / perban yang menutupi fakta terhadap si’dermawan’ itu. Sifat adalah penampakkan, namun esensi ada di balik itu.

Fakta lain, Amerika terlihat sangat maju teknologinya, demokratis dan sejahtera serta tinggi taraf berfikir masyarakatnya. Itulah sifat yang bisa dinilai. Namun sifat-sifat tersebut tidak malah menutupi bahwa Amerika adalah negara dengan politik luar negeri yang menjajah negeri lain demi memuaskan kepentingan-kepentingan penguasa-penguasanya. Ketika pemahaman ini tidak mendalam sampai ke esensi, maka seseorang akan terbuai dengan sifat-sifat amerika yang terkesan luhur seperti di atas. Ini kemudian melahirkan respon terhadap Amerika, bahwa seorang muslim bisa menjadi pemuja pemikiran, pengagum peradaban, dan sahabat akrab dengan negara kafir yang memerangi unat muslim di belahan lain dunia. Sedangkan ia menganggap rendah dan remeh permasalahan umat di mana negeri muslim tertentu sedang di dzolimi oleh negara kafir. Inilah contoh akhlak yang salah tempat, berujung menjadi dzolim terhadap saudara sendiri, hanya karena mengambil Islam sebagai sifat-sifat toleran, menghargai dan berbudi luhur, tanpa mengenali esensi dari fakta yang menjadi objek berfikir. Kenapa terjadi? Ini menjelaskan bahwa umat Islam tidak sedang berfikir, atau rendah sekali taraf berfikir islamnya.

Itulah kenyataannya, sifat itu tampilan. Tapi kepribadian Islam seorang muslim yang menyeluruh akan dengan sendirinya terwujud dengan menjalankan syariat Islam secara utuh atas kesadaran akan aqidah yang diembannya.

Akhlak dari pandangan ulama dan fukoha terdahulu pun tidak dipandang sebagai suatu hal yang khusus, atau dikaji secara terpisah. Tidak terdapat fiqih akhlak dalam kitab-kitab Islam klasik. Karena kepribadian Islam akan lahir dari ketundukkan muslim terhadap fiqih ibadah maghdoh dan ghoiru maghdoh seperti muamalah, makanan, dan pakaian.

Justru umat Islam kini harus memeriksa keshohihan hadits-hadits yang dikumpulkan ulama-ulama mukhalaf (baru) untuk mengkaji akhlak. Bisa jadi dan sangat banyak sekali terdapat hadits-hadits palsu yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum munafik untuk menggembosi atau ‘menderadikalisasi’ umat Islam. Salah satunya adalah hadits yang lazim didengar yang isinya menganjurkan nasionalisme karena nasionalisme sebagian dari Iman. Ini menjadi fatal ketika umat mengadopsi hadits ini kemudian menjadikan pemikirannya memisahkan dirinya dari ukhuwwah pada umat Islam lainnya yang tidak satu kewarganegaraan dengannya, yang bisa berujung perang sesama muslim saudara seakidah. Ini menjelaskan bahwa berbahaya apabila Islam tidak digali dari akarnya dan hanya dikenali sifat-sifatnya saja.

Maka dapat di simpulkan, yang umat perlukan adalah kepribadian Islam yang utuh, yang lahir dari aqidahnya, dan terpancar dari kepatuhannya terhadap hukum menyeluruh dalam peribadatan, muamalah dan juga akhlak, makanan dan pakaian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: