Tinggalkan komentar

Kenapa Abu Bakar bersifat membenarkan sehingga dijuluki ashShiddiq?

Islam adalah ajaran yang berisikan akal(aqidah) dan hukum (syariah) | yaitu Pemikiran, dan metoda, sebagaimana Syahadat, berisikan tujuan (Laa illaha ilallah), dan bagaimana caranya menggapai tujuan itu (Muhammad Rasul Allah).

Islam memerintahkan akal agar berfikir mengenai penciptaan, banyak sekali ayat2 yang turun di Mekah (masa awal) yang mengajak manusia untuk berfikir. Oleh Quran manusia disuruh Berfikir tentang tubuhnya, unta, tentang langit yang tidak runtuh, tentang proses penciptaan janin dan bayi… yang jika proses berfikir tentang itu semua dilakukan, maka akan melahirkan keyakinan bahwa segala yang dilihat iNi adalah penciptaan, yg mewajibkan adanya sang Pencipta.

Bahkan surat AlAlaq yang diturunkan paling awal, adalah meminta manusia untuk ’membaca’, surat itu bukan berisi doktrin. Namun mempersilahkan orang yg berakal untuk menelaah penciptaan dirinya sendiri. Allah tidak menurunkan surat Al-Ikhlas misalnya, sebagai surat yg paling awal turun , yang memerintahkan untuk "Katakanlah, Allah itu Satu", bukan. Allah tidak mengawali turunnya wahyu dengan doktrin, namun dengan ajakan berfikir. Hasil proses berfikir itulah, melahirkan aqidah aqliyah yang konsekwensinya kemudian akan melahirkan dorongan bagi pemegang aqidah itu untuk taat pada aturan penciptanya. Itulah iman yang melahirkan ketaatan, itulah keyakinan yang membangun sikap dan pola fikir, yang pada akhirnya membuahkan amal sesuai dengan cara pandang dasar yaitu aqidah itu sendiri.

Kembali ke Sayyidina Abu Bakar

Pandangan umum mengira bahwa Abu Bakar memang ’dari sononya’ sudah serta merta "sami’na wa ato’na " pada Rosul SAW. Pada fakta sejarahnya pun memang demikian, Abu Bakr seolah tidak berfikir lagi untuk mentaati rosul apapun kondisinya, mau masuk akal ataupun tidak (seperti isro’ mi’roj). Sehingga banyak yang berkesimpulan, bahwa beragama itu tidak perlu berfikir, imani dan laksanakan saja. Padahal sebetulnya untuk masalah keimanan haruslah berfikir, agar tidak salah mengimani dan salah yang diimani. Setelah iman kokoh, bolehlah mendengar dan mentaati perintah… tentunya tau dulu dari mana asal perintah itu. Mari kita telisik apa yang sebetulnya telah terjadi sebelumnya pada sayidina Abu Bakar.

Sebelum masa Kerosulan, Abu Bakar adalah pribadi yang bersih, dan berfikir. Kala itu di Mekah telah terjadi kemusrikan dengan didewakannya orang2 soleh terdahulu mereka, dan di sembah dalam wujud patung2 yang mereka bangun sendiri. Sedangkan Agama tauhid millah Ibrahim juga masih beredar dikalangan mereka, Nama Allah masih disebut sebagai Tuhan, namun disandingkan dengan tuhan2 berhala. Abu Bakar suatu saat sebelum Muhammad menjadi Rosul pernah akan sembahyang di depan salah satu patung itu, namun akhirnya ia malah menghancurkannya, meninggalkannya dan berazam untuk tidak berurusan lagi dengan patung2 itu. Akal sehatnya tidak bisa menerima penghambaan kepada patung. Aqalnya tetap beraqidah (terikat) pada aqidah tauhid, dengan penuh kesadaran. Lalu ia juga mengetahui maklumat2 tentang akan adanya Nabi akhir zaman di Mekkah, yg tdk lama lagi akan turun sebagaimana digambarkan oleh kitab2 nabi terdahulu. Yang terjadi pada dirinnya adalah, Ia telah melakukan proses berfikir, yang berujung kepada menyongsong datangnya rosul akhir Zaman itu. Jadi ketika ternyata Muhammad -sahabatnya sendiri – yang telah ia tahu sebelumnya adalah seorang terpercaya, tanpa cela dan luhur terpuji budinya, tak heran jika kemudian ia tidak berfikir lama2 lagi untuk mengimani kerosulan Muhammad.

Kalimat kunci yang membedakan seorang Abu Bakar dan sahabat/masyarakat mekah yang lain adalah:

"
-ketika masyarakat mekkah belum berfikir akan tauhid, Abubakar sudah.
– Ketika kebanyakan orang belum memikirkan kedatangan naBi akhir zaman, Abu Bakar sudah.
– Ketika Sahabat2 awal satu demi satu masuk Islam karena diajak berfikir tentang keEsaan Allah, proses berfikir itu sudah dilalui oleh Abu Bakar sebelumnya.
-Ketika orang masih harus berfikir kenapa Tuhan itu satu, kenapa harus Muhammad yang menjadi nabi dllsb, Abu Bakar sudah tidak usah berfikir lagi, akalnya sudah iman 100%.
"

Jika dianalogikan, abu Bakar itu seperti anak kelas 6SD yang ikut belajar dikelas 3SD. Yang lain masih harus berfikir bagaimana menyelesaikan soal perkalian, Beliau sudah tidak usah berfikir lagi, karena sudah hafal.

Itulah kenapa Abu Bakar dengan serta merta membenarkan apa yang dikatakan Nabi, sedang yang lain belum. Ketika yg lain masih mikir2 untuk percaya, pola pikir dan pola sikap Abu Bakar sudah menjadi cerminan Iman yang utuh…

Jadi bukanlah Sayyidina Abu Bakar itu sosok yang tidak berfikir, bukanlah ia hanya mengimani , mendenNar dan taat. Namun justru ia seperti itu karena pemikirannya mendahului (lebih maju) dari pemikiran masyarakat umum pada saat itu. Ia seorang yg visioner, mengantisipasi masa depan berdasar berita wahyu yg ada dalam kitab2 sebelum Alquran.

Allahua’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: